Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kisah Nyata Saifuddin Zuhri: Mantan Menteri Agama RI yang Diam-Diam Berjualan Beras di Pasar Glodok Demi Hidup Mandiri

Kamis, 16 Juli 2026 | Juli 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-16T01:55:00Z



Ringkasan: Di balik jabatan bergengsi sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, Saifuddin Zuhri menyimpan kesederhanaan yang luar biasa. 

Setelah pensiun dari panggung politik, mantan menteri ini diam-diam berjualan beras di Pasar Glodok setiap pagi — bahkan tanpa sepengetahuan keluarganya. 

Kisahnya menjadi cermin berharga tentang integritas, kemandirian, dan arti sesungguhnya dari sebuah pengabdian di era ketika banyak pejabat justru mencari cara untuk melanggengkan keistimewaan usai meninggalkan kursi kekuasaan.


Jakarta — Ketika sebagian besar pejabat negara yang pensiun sibuk menikmati tunjangan, menerima undangan seminar berbayar, atau bergabung di dewan komisaris perusahaan pelat merah, seorang mantan menteri diam-diam menyetir mobilnya sendiri setiap pagi menuju Pasar Glodok, Jakarta. Di sana, ia bukan datang untuk berbelanja — melainkan untuk berjualan beras.


Itulah Saifuddin Zuhri, Menteri Agama Republik Indonesia ke-10, yang masa jabatannya berakhir pada 1967. Kisahnya yang terungkap ke publik melalui buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023) ini bukan sekadar anekdot historis yang menghangatkan hati. Di tengah iklim 2026 yang diwarnai berbagai skandal korupsi pejabat dan meningkatnya sorotan publik terhadap gaya hidup mewah aparatur negara, kisah ini terasa lebih relevan dari sebelumnya.


Ia adalah potret langka: seorang yang pernah memegang kekuasaan, namun memilih turun ke pasar secara harfiah ketika kekuasaan itu berakhir.


Saifuddin Zuhri: Dari Pesantren ke Kursi Kabinet, Lalu ke Pasar Glodok


Untuk memahami mengapa pilihan Saifuddin begitu mengejutkan sekaligus mengagumkan, kita perlu terlebih dulu memahami posisi yang pernah ia duduki. Saifuddin Zuhri dilantik sebagai Menteri Agama RI pada 2 Maret 1962 di era kepemimpinan Presiden Soekarno. 


Jabatan ini bukan jabatan sembarangan — Menteri Agama pada masa itu mengemban tanggung jawab atas kehidupan keagamaan ratusan juta penduduk Indonesia, mengelola ribuan madrasah, dan menjadi jembatan antara pemerintah dan ormas-ormas keagamaan terbesar di tanah air.


Masa jabatannya berakhir pada 1967, saat usia Orde Baru mulai bersemi. Namun karier politiknya tidak langsung berhenti di sana. Ia masih aktif sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) dan kembali duduk di parlemen sebagai anggota DPR hasil Pemilu 1971.


Namanya tercantum dalam sejarah politik Indonesia bukan hanya sebagai mantan menteri, tetapi juga sebagai tokoh NU yang disegani dan intelektual pesantren yang produktif menulis.


Latar belakang pesantrennya memang membentuk karakter yang sangat berbeda dari tipikal birokrat modern. Saifuddin lahir dan dibesarkan dalam tradisi keilmuan Islam yang mengajarkan bahwa bekerja keras — dalam bentuk apa pun — adalah ibadah. 


Bahwa kedudukan adalah titipan, bukan warisan. Dan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi ia duduk, tetapi dari seberapa jujur ia berdiri.


1942

Saifuddin pertama kali berdagang untuk menafkahi keluarga saat anak pertamanya lahir. Menjual pakaian bekas, peralatan rumah tangga bekas, hingga rokok.


1962

Dilantik sebagai Menteri Agama RI ke-10 oleh Presiden Soekarno. Menolak menempati rumah dinas dan tetap tinggal di rumah pribadi.


1967

Masa jabatan sebagai menteri berakhir. Melanjutkan karier di DPR-GR dan kemudian DPR hasil Pemilu 1971.


1980-an

Setelah benar-benar pensiun dari jabatan negara, diam-diam berjualan beras di Pasar Glodok setiap pagi tanpa sepengetahuan keluarga.


25 Feb 1986

Saifuddin Zuhri berpulang setelah berjuang melawan sakit. Meninggalkan warisan integritas yang terus dikenang.


Kisah yang Membuat Geger: Setiap Pagi ke Glodok, Keluarga pun Tidak Tahu


Yang paling mengejutkan dari kisah ini bukan semata fakta bahwa seorang mantan menteri berjualan beras. Yang benar-benar membuat publik tertegun adalah cara Saifuddin menjalaninya: diam-diam, disiplin, dan tanpa pamrih terhadap siapa pun — termasuk keluarganya sendiri.


Menurut catatan dalam buku Sang Pendoa, rutinitas Saifuddin di era 1980-an terbilang konsisten. Setiap pagi, usai menunaikan salat Dhuha, ia menyetir mobilnya sendiri ke Pasar Glodok sambil mengangkut beras sebagai barang dagangan. 


Tidak ada sopir. Tidak ada asisten. Tidak ada bekas anak buah yang menemani. Hanya ia dan pekerjaannya.


Aktivitas itu berlangsung hampir setiap hari dan berlanjut cukup lama. Keluarga Saifuddin hanya mengetahui bahwa setiap hari ia pergi ke luar dan pulang membawa uang. 


Dari mana uang itu berasal? Mereka tidak tahu. Saifuddin tidak pernah bercerita, tidak pernah membanggakan, dan tidak pernah meminta pengakuan.


Hingga suatu hari, salah seorang putranya secara tidak sengaja memergoki sang ayah tengah berdagang di tengah keramaian Pasar Glodok. Momen itu menjadi titik pengungkapan yang seketika menyebar ke kalangan keluarga dan akhirnya ke ruang publik.


"Kehidupan sederhana bukan berarti kehidupan yang kurang. Ia bisa berarti kehidupan yang cukup karena tidak pernah meminta lebih dari yang semestinya diterima." — Refleksi atas teladan Saifuddin Zuhri

Mengapa ia tidak bercerita pada keluarganya? Kemungkinan besar karena bagi Saifuddin, berdagang bukan sesuatu yang perlu diumumkan atau disembunyikan. 

Itu hanya cara ia menghidupi diri sendiri secara bermartabat — tanpa belas kasihan, tanpa mengandalkan nama besar masa lalu.


Bukan Pertama Kali: Jiwa Pedagang yang Sudah Ada Sejak 1942


Bagi yang membaca autobiografi Saifuddin berjudul Berangkat dari Pesantren (1984), jejak kemandirian ini sebenarnya tidak mengejutkan. Saifuddin pernah menjadi pedagang kali pertama pada 1942 — jauh sebelum karier politiknya dimulai — ketika anak pertamanya lahir dan ia membutuhkan penghasilan untuk menafkahi keluarga muda.


Saat itu kondisi Indonesia sedang berada di bawah pendudukan Jepang. Perekonomian carut-marut, lapangan pekerjaan sangat terbatas, dan banyak orang terpaksa mencari cara bertahan hidup yang tidak konvensional. Saifuddin tidak terkecuali.


Ia menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang:

  • Pakaian bekas — komoditas yang tetap dicari di tengah kelangkaan kain baru
  • Peralatan rumah tangga bekas — kebutuhan dasar yang tidak pernah berhenti dibutuhkan orang
  • Rokok — komoditas dengan permintaan yang stabil bahkan di masa sulit sekalipun


Dari pengalaman itulah Saifuddin belajar tentang kerja keras, ketidakpastian, dan martabat dalam mencari nafkah yang halal. Pengalaman ini tidak pernah ia lupakan, bahkan ketika jabatan menteri membuatnya dikelilingi protokol dan fasilitas negara. 


Dan ketika semua fasilitas itu pergi seiring berakhirnya jabatan, jiwa pedagang itu kembali muncul — bukan sebagai kemunduran, melainkan sebagai ekspresi paling autentik dari dirinya.


Menteri yang Menolak Rumah Dinas: Jejak Integritas yang Konsisten


Kisah berjualan beras di Glodok akan terasa lebih bermakna jika dipahami dalam konteks karakter Saifuddin yang sudah terbentuk sejak ia masih menjabat. Bahkan di puncak kekuasaannya sebagai Menteri Agama, Saifuddin secara konsisten menolak menggunakan fasilitas negara yang bukan haknya secara esensial.


Salah satu contoh paling mencolok adalah penolakannya terhadap rumah dinas. Meski sebagai menteri ia berhak menempati rumah dinas yang disediakan negara, Saifuddin memilih tetap tinggal di rumah pribadinya di Jalan Dharmawangsa Raya No. 4, Kebayoran Baru. Ketika para koleganya dan stafnya mendesaknya untuk menerima fasilitas tersebut, jawabannya tegas:


"Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain... Sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang." — Saifuddin Zuhri, dikutip dari catatan biografis

Pernyataan ini bukan retorika. Saifuddin benar-benar tidak pernah tinggal di rumah dinas sepanjang masa jabatannya. Ia bahkan kemudian menyicil rumah di kawasan Jalan Hang Tuah 1/6, Kebayoran Baru — sebuah rumah yang ia beli dari jerih payah sendiri, bukan dari pemberian atau fasilitas jabatan.


Dan ketika cicilan rumah itu lunas? Ia menghibahkan rumah tersebut secara cuma-cuma untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama. Tidak untuk dijual. Tidak untuk diwariskan. Tidak untuk menghasilkan keuntungan pribadi. Melainkan diserahkan begitu saja untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umat.


📌 Rekam Integritas Saifuddin Zuhri sebagai Pejabat Negara

  • Menolak menempati rumah dinas menteri dan tetap tinggal di rumah pribadi selama menjabat
  • Tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi atau keluarga
  • Menyicil rumah dari penghasilan sendiri — bukan dari fasilitas atau gratifikasi
  • Menghibahkan rumah pribadi yang telah lunas cicilan ke Nahdlatul Ulama
  • Setelah pensiun, menghidupi diri sendiri dengan berdagang tanpa bergantung pada jaringan lama
  • Tidak pernah menggunakan nama besar "mantan menteri" untuk mencari keistimewaan


Relevansi di 2026: Mengapa Kisah Ini Kembali Viral dan Mengena


Kisah Saifuddin Zuhri bukan sekadar catatan sejarah yang menarik. Ada alasan kuat mengapa kisah ini kembali beredar luas di media sosial dan media daring pada Juli 2026 — jauh setelah tokohnya meninggal hampir empat dekade lalu.


Indonesia di 2026 sedang berada dalam momen refleksi yang intens tentang integritas pejabat publik. Berbagai kasus korupsi dari mantan pejabat tinggi yang terungkap dalam beberapa tahun terakhir — dari pengadaan barang dan jasa hingga suap perizinan — telah mengikis kepercayaan publik terhadap institusi negara. 


Survei terbaru lembaga riset independen menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap pejabat pemerintah berada pada titik terendah dalam satu dekade terakhir.


Di tengah konteks inilah kisah seorang mantan menteri yang diam-diam berjualan beras di pasar — bukan mengeluhkan tunjangan pensiun yang kurang, bukan mencari proyek lewat koneksi lama, bukan mengajari orang lain tentang integritas dari balik microphone seminar berbayar — terasa seperti tamparan pelan namun menyentuh.


Ada beberapa dimensi relevansi yang perlu digarisbawahi:


1. Kontras dengan Gaya Hidup Mewah Pejabat Modern


Di era media sosial, gaya hidup mewah sejumlah pejabat dan mantan pejabat kerap menjadi tontonan — dan topik perdebatan — publik. Foto liburan ke luar negeri, kendaraan mewah, atau pesta pernikahan anak pejabat yang glamor kontras tajam dengan kondisi sebagian rakyat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Saifuddin, dengan segala jabatan tingginya, memilih jalan yang sepenuhnya berbeda.


2. Pelajaran tentang Persiapan Pensiun yang Bermartabat


Kisah ini juga menjadi cermin bagi siapa pun — bukan hanya pejabat — tentang pentingnya memiliki keterampilan dan mentalitas bekerja yang tidak bergantung pada jabatan atau status. Saifuddin tidak panik ketika jabatannya berakhir karena ia tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya lewat jabatan itu.


3. Nilai Kejujuran dan Kemandirian dalam Tradisi Pesantren


Latar belakang pesantren Saifuddin bukan sekadar latar belakang pendidikan. Ia adalah sistem nilai yang membentuk cara pandang terhadap harta, jabatan, dan kehormatan. Nilai-nilai ini — yang dikenal dalam tradisi Islam sebagai zuhud (tidak terikat pada dunia) dan istiqomah (konsistensi) — menjadi fondasi seluruh pilihan hidupnya.


4. Warisan Melampaui Jabatan

Saifuddin meninggal pada 25 Februari 1986. Namun warisannya tidak berhenti di sana. Putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, dipercaya menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo — menjadikan keluarga Saifuddin salah satu dari sedikit keluarga yang menghasilkan dua Menteri Agama dalam sejarah Republik Indonesia. Warisan bukan harta atau koneksi, melainkan karakter dan rekam jejak yang bisa membuka kepercayaan publik.


Pasar Glodok dan Semangat Wirausaha yang Tidak Mengenal Status Sosial


Ada satu detail dalam kisah ini yang sering terlewat, namun sangat bermakna: Saifuddin memilih Pasar Glodok — salah satu pusat perdagangan tertua dan tersibuk di Jakarta — sebagai tempat berdagangnya. Pasar Glodok bukan pasar elite. Ia adalah pasar rakyat yang riuh, padat, dan penuh persaingan. Tempat para pedagang kecil bersaing setiap hari untuk memenangkan kepercayaan pembeli.


Dengan memilih berdagang di sana, Saifuddin menempatkan dirinya sejajar dengan pedagang-pedagang biasa. Tidak ada jalur khusus, tidak ada pelanggan yang datang karena nama besarnya, dan tidak ada jaminan bahwa harinya akan menguntungkan. Ia menghadapi pasar seperti pedagang biasa menghadapinya: dengan kerja keras dan keberuntungan yang tidak bisa diprediksi.


Di 2026, ketika spirit wirausaha sedang digalakkan pemerintah sebagai salah satu pilar ketahanan ekonomi nasional, kisah Saifuddin menawarkan perspektif yang segar. Wirausaha sejati tidak didefinisikan oleh modal awal yang besar atau koneksi yang kuat — melainkan oleh kesediaan untuk bekerja tanpa pamrih dan menemukan martabat dalam kerja itu sendiri.


Kesimpulan: Pelajaran dari Seorang Mantan Menteri yang Memilih Pasar


Kisah Saifuddin Zuhri bukan sekadar kisah tentang kesederhanaan. Ia adalah kisah tentang konsistensi antara ucapan dan tindakan — tentang seorang manusia yang tidak berubah ketika berkuasa dan tidak hancur ketika kekuasaan itu pergi.


Dalam lanskap 2026 yang semakin mempertontonkan kesenjangan antara amanah jabatan dan perilaku nyata pejabat, kisah ini adalah pengingat bahwa integritas bukan komoditas yang bisa dibeli atau diperformakan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil sehari-hari: menolak yang bukan haknya, memilih yang sulit tapi benar, dan bekerja tanpa butuh tepuk tangan.


Tiga pelajaran utama yang bisa diambil:


  • 🎯 Jabatan adalah amanah, bukan identitas. Saifuddin tidak kehilangan dirinya ketika jabatan itu berakhir karena ia tidak pernah membiarkan jabatan itu mendefinisikan siapa dirinya.
  • 💼 Kemandirian adalah aset terbesar. Dengan memiliki keterampilan dan kemauan bekerja di level mana pun, Saifuddin tidak perlu bergantung pada siapa pun setelah pensiun.
  • 🌱 Warisan terbaik adalah karakter, bukan harta. Putranya mendapat kepercayaan publik untuk menjabat menteri bukan karena warisan materi, melainkan karena warisan nama yang dibangun di atas integritas.


Refleksi Praktis: Nilai-Nilai Saifuddin yang Bisa Diterapkan Hari Ini

  1. Jangan jadikan jabatan atau status sebagai sumber identitas utama Anda. Identitas yang bergantung pada jabatan akan rapuh ketika jabatan itu pergi. Bangun identitas dari nilai dan keterampilan yang lebih tahan lama.
  2. Tidak ada pekerjaan halal yang merendahkan martabat. Saifuddin tidak merasa perlu menyembunyikan pekerjaannya dari dunia — hanya dari keluarga, kemungkinan karena tidak ingin dikhawatirkan. Ia tidak malu dengan pilihan hidupnya.
  3. Berikan lebih dari yang Anda ambil. Menghibahkan rumah untuk kepentingan sosial setelah cicilan lunas adalah tindakan yang hampir tidak ada duanya. Namun dalam skala lebih kecil, prinsip memberi lebih dari mengambil bisa diterapkan siapa pun.
  4. Persiapkan "kehidupan setelah jabatan" jauh sebelum jabatan itu berakhir. Saifuddin sudah tahu cara berdagang sejak 1942. Keterampilan itu tidak perlu ia pelajari dari awal ketika pensiun datang.
  5. Konsistensi kecil lebih kuat dari pernyataan besar. Tidak ada pidato Saifuddin tentang anti-korupsi yang tersimpan dalam rekaman sejarah. Yang tersimpan adalah tindakan nyata: menolak rumah dinas, menyicil rumah sendiri, menghibahkan ke umat, dan berjualan beras ketika sudah tidak punya pangkat.

Artikel ini ditulis berdasarkan catatan historis dari buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023) dan autobiografi Saifuddin Zuhri Berangkat dari Pesantren (1984), dengan tambahan analisis dan konteks relevansi di era 2026.

#Saifuddin Zuhri #Mantan Menteri Agama RI #Pasar Glodok #Tokoh Inspiratif Indonesia #Nahdlatul Ulama #Integritas Pejabat #Kisah Inspirasi 2026 #Sejarah Indonesia

×
Berita Terbaru Update